Weekly Economic Report

  • Nilai tukar rupiah masih kuat dipengaruhi oleh isu global terkait Yunani, AS, dan kemungkinan Italia. CDS Indonesia mulai naik walaupun masih dalam batas aman. Diawal minggu ke-3 September, IDR mengalami tekanan pelemahan. Kami perkirakan IDR akan bergerak dikisaran Rp.8.560 s.d Rp.8.700 per USD.
  • Keyakinan konsumen menunjukkan optimism yang melemah seiring dengan berlalunya efek musiman yaitu puasa-Idul Fitri yang berlalu bulan lalu. Ekspektasi konsumen terhadap tingkat inflasi 3 dan 6 bulan juga melemah, tetapi survei ini belum memasukkan faktor naiknya tarif dasar listrik 10% pada 1 April 2012.
  • Indikator moneter bulan Agustus mencatat kenaikan uang primer (M0) yang sangat tinggi, 12,7% mom terkait dengan meningkatnya permintaan uang untuk puasa-Idul Fitri dan naiknya cadangan devisa sebesar 1,6% mom. Ekspansi moneter juga terlihat dari turunnya posisi operasi pasar terbuka sebesar 17% mom, yang kemungkinan sebagai persiapan perbankan mengantisipasi peningkatan kredit dan tarikan uang tunai masyarakat. Tetapi dari sisi fiskal dorongan tidak begitu kuat bahkan cenderung turun akibat serapan belanja modal yang masih 26,9% hingga Agustus lalu.
  • Pada RDG BI 8 September lalu, BI tetap mempertahankan suku bunga BI rate di 6,75%, tetapi memperlebar batas bawah koridor suku bunga menjadi 150 bps dibawah BI Rate. Kebijakan ini membuat suku bunga PUAB dan imbal hasil SUN tertekan turun. Keputusan ini juga menjadi sinyal potensi penurunan BI rate mendatang terutama jika ekspektasi inflasi terjaga.