Weekly Economic Report

  • Nilai tukar rupiah terus menguat seiring makin derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar Indonesia terutama ke pasar obligasi. Kepemilikan asing di SUN meningkat sebesar Rp.3,58 triliun dalam minggu ke-4 Juli lalu. Minat beli aset Indonesia masih tinggi terutama karena ketidakpastian dari Amerika Serikat dan Uni Eropa.
  • Kami perkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran antara Rp.8.455 s.d Rp.8.480 per USD.
  • Inflasi bulan Juli tercatat 0,67% mom atau 4,61% yoy, dan secara kumulatif mencapai 1,74%. Kelompok penyumbang inflasi terbesar adalah bahan makanan, makanan jadi, sandang, rekreasi-pendidikan-olahraga, faktor-faktor yang terkait secara musiman.
  • Penguatan IDR masih menjadi faktor penahan inflasi. Tekanan inflasi Juli ini bersifat temporer dan ruang inflasi masih cukup longgar. Angka inflasi tahu 2011 bisa mencapai sekitar 5% jika tidak ada perubahan kebijakan mengenai BBM bersubsidi. Kami juga merevisi target inflasi dari 6,5% menjadi 5%-5,5%.
  • Relatif rendahnya angka inflasi hingga Juli ini akan membuat BI menahan suku bunga BI rate tetap di 6,75% pada RDG 9 Agustus 2011.
  • Ekspor Juni masih menunjukkan kenaikan terutama pada ekspor non migas berbasis tambang (batubara). Sedangkan ekspor migas turun. Nilai ekspor kumulatif dari Januari s.d Juni tercatat US$98,6 miliar atau naik 36% yoy dibandingkan periode yang sama tahun 2010. Sementara itu impor Juni menunjukkan kenaikan terutama pada impor non migas sedangkan impor migas justru turun. Nilai impor kumulatif dari Januari s.d Juni mencapai US$83,6 miliar atau naik 33% yoy.
  • Impor dari Jepang sudah terlihat meningkat menjadi indikasi membaiknya ekonomi Jepang yang pulih lebih awal. Dilihat dari kelompok barang, kenaikan impor tertinggi terlihat pada golongan barang modal. Kenaikan ini relevan dengan data BKPM yang mencatat kenaikan investasi sebesar 14% yoy pada semester 1 2011.
  • Neto perdagangan ekspor-impor menghasilkan surplus sebesar US$3,3 miliar. Dan secara kumulatif, surplus neraca perdagangan pada semester 1 tercatat US414,7 miliar atau naik 53% yoy.
  • Pertumbuhan ekonomi Q2-2011 diperkirakan masih cukup kuat. Perkiraan Samuel mencapai 2,95% qtq atau 6,6% yoy. Secara sektoral, sektor pertanian, pertambangan, keuangan, dan telekomunikasi akan tumbuh tinggi. Sedangkan dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor akan tumbuh tinggi.